Beranda» Cerpen » Cerpen Kehidupan » Cerpen Motivasi » Cerpen Sedih » Cerpen - Bako. Cerpen - Bako Oleh . Blogger Sastra. Kamis, 15 Oktober 2015 Bagikan : Tweet. atau karena penyakit polio yang membuatnya menjadi cacat? Semua itu menjadi pertanyaan baginya yang tak kunjung ada jawabannya. Namun, berkat bimbingan uminya yang selalu Cerpensedih menyentuh hati tentang keluarga sederhana adalah cerita tentang seorang yang tegas pada anaknya pada akhir dia menyesali ketegasan karena anaknya begitu sayang kepadanya. Dalam cerpen tema keluarga sedih seorang ayah mengusir anak sulungnya yang saat itu masih berusia 14 tahun karena ketahuan mencuri, Sang ibu begitu rindu pada Cerpen"Keegoisan Berujung Penyesalan" sedih dan diam, dia cerita tentang kamu terus. Marwah selalu bilang kalau dia rindu skali sama kamu, senyuman mu padanya, canda tawamu , dia rindu kamu yang dulu." aku ingin sering kasih tau kamu tentang penyakit yang ku derita tapi kamu keburu marah pada ku , sehingga kamu ga mau dengerin aku Padakutipan cerpen "Mantanku Thank You" karya Megawati di atas yang telah di tulis menggunakan huruf tebal menunjukkan suasana sedih. Tokoh Mega sedih dengan sikap Hedy kekasihnya yang memutuskan hubungan mereka karena tokoh Mega mengatakan yang sejujurnya tentang penyakit kaki yang ia derita. 15. Pesan atau Amanah. Dalam sebuah cerpen, unsur ini merupakan salah satu unsur yang wajib ada. Amanah atau pesan meruoakan nilai didik yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca, baik secara eksplisit dan implisit. Nilai-nilai yang terkandung dapat berupa nilai agama, sosial, moral, dan budaya. 1.6. Langsungaja dibaca dan resapi Cerpen Sedih Tentang Persahabatan berikut: "Sahabat Terbaik" "Persahabatan bukan hanya sekedar kata, "Maafkan saya sebelumnya pak, sebenarnya saya sudah tau penyakit yang diderita putri bapak sejak 7 bulan lalu, tapi karena putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya gak CerpenSedih - Keegoisan Cinta Silahkan baca artikel Cerpen Sedih - Keegoisan Cinta selengkapnya di blog Kumpulan Cerpen. Cerpen Sedih - Keegoisan Cinta Keesokan harinya saya pun berbincang-bincang tentang pengalaman saya semasa smp di kelas sebelum pelajaran di mulai " ehhhh aku ingin cerita semasa smp, dulu aku punya sahabat namanya Sahabatkuhanya heran melihatku, dan sebenarnya, sahabat aku ini tidak tahu aku mempunyai penyakit mematikan ini, hanya Allah, aku dan kedua orangtuaku. Sampai di toilet aku segera membersihkan hidungku terlebih dahulu, setelah itu aku membersihkan sapu tanganku yang penuh dengan darah. "nah udah selesai". BAGAIMANAMASA DEPAN KITA. Di suatu sore ada seorang anak kecil sedang berjalan-jalan di taman. Di saat sedang asyik-asyiknya menikmati indahnya keasrian rimbunnya pepohonan dan semilirnya angin sepoi-sepoi, langkahnya terhenti karena matanya tertangkap tingkah seorang bapak-bapak yang sedang melamun dengan tatapan mata yang kosong. CerpenKamis, 15 September 2016. TENTANG RASA SEORANG SAHABAT . Saat ini aku ingin semua tahu dengan perasaanku, perasaan yang amat perih. Aku hanya dapat mengurung diri di dalam kamar dengan di temani berbagai benda-benda yang terdapat di kamarku. Aku tidak ingin kalian tahu bahwa aku sedang sedih, aku tak mau jadi beban pikiran kalian. E440x7. Cerpen Karangan AnitaAlfaKategori Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 3 March 2021 Sebaik apapun caramu berpamitan, perpisahan akan tetap menyakitkan’. Ingat satu kalimat itu sampai kamu benar-benar tahu definisi sakit yang sesungguhnya. Hidup ini ini penuh kejutan, kamu tidak akan bisa menebak sesuatu yang akan terjadi pada detik selanjutnya. “Resha kok nangis, kenapa?” Pria yang masih mengenakan setelan jas kantornya itu datang lalu berjongkok di depan gadis kecil yang sedang menangis sembari terduduk di lantai ruang tamu. “Echa jatuh, Pa.” adu anak berusia sekitar tujuh tahunan itu sembari terisak tangis. Pria yang disebut papa tersebut lantas tersenyum sembari mengusap air mata putrinya. “Masa gini aja kamu nangis sih?” “Tapi kan sakit, Pa. Echa nggak kuat.” Resha menunjukkan siku kanannya yang lecet. “Tuh, Pa. Siku Echa ada darahnya.” Pria berumur tiga puluhan itu meraih lengan anaknya kemudian membersihkan bercak darah yang ada pada lukanya. Resha merasa lebih membaik setelah papanya meniup lukanya berkali-kali. Seolah sihir, entah bagaimana bisa sakitnya langsung hilang begitu saja. “Tangan Resha masih sakit, nggak?” tanya pria itu. “Enggak sakit lagi, Pa.” “Tadi katanya sakit?” Resha bungkam menatap wajah lembut papanya. Dia bingung. Tadi sebelum papanya datang luka itu terasa sangat sakit sekali, karena itulah dia menangis. Tapi setelah papanya datang sakitnya benar-benar lenyap entah bagaimana bisa. Pria itu membantu Resha berdiri setelah itu membawanya duduk ke sofa. “Resha mau papa kasih tau nggak?” Resha mengangguk polos. “Mau,” “Luka itu sebenarnya nggak sakit. Saat kamu jatuh dan terluka maka otak kamu yang akan lebih dulu merespon. Jadi kalo Resha berpikir Resha kuat saat terjatuh, rasa sakit itu nggak akan pernah ada, Nak.” Resha tidak mengerti sama sekali dengan penjelasan papanya. Dia memiringkan kepalanya karena tidak paham. “Resha ngerti maksud papa?” Dengan polosnya Resha menggeleng pada papanya. “Echa nggak ngerti, Pa.” Pria itu terkekeh geli. Merasa gemas dengan putrinya lalu mencubit pipinya. “Maksud papa, kamu harus berpikir bahwa kamu itu orang yang kuat. Jadi saat kamu terjatuh, kamu tidak akan menangis karena luka apapun.” “Echa kan masih kecil, Pa.” “Iya, Resha memang masih kecil sekarang. Tapi Resha harus berlatih untuk tidak menangis saat terjatuh dan terluka. Resha nggak boleh nangis lagi ya kalau jatuh, masa luka kecil gitu aja nangis sih?” “Tapi Pa… rasanya emang beneran sakit. Papa kalau jadi Echa pasti nangis juga.” Lagi-lagi tingkah menggemaskan Resha mampu membuatnya terkekeh geli. Pria itu lalu meraih tubuh putrinya dan membawa dalam pangkuannya. “Resha tahu nggak, nanti saat kamu sudah dewasa, akan ada banyak luka yang lebih sakit dari ini. Tapi sebelum kamu merasakannya, papa mau Resha jadi anak yang kuat.” “Kenapa Echa harus kuat? Kan ada papa yang akan nolongin Echa kalo Echa jatuh lagi terus nangis.” kata Resha. “Kamu nggak bisa berharap lebih pada siapapun Resha, termasuk papa. Bagaimanapun juga nanti akan ada saatnya papa tidak bersama kamu lagi.” Resha mendongak memandang mata papanya yang tanpa sadar mengeluarkan sedikit air mata. Menyiratkan akan luka yang bahkan belum terjadi namun dapat dirasakan. Gadis kecil itu tampak bingung pada papanya. Kenapa? “Kok papa nangis sih? Papa kan nggak jatuh kayak Echa tadi, jadi papa nggak ngerasain sakit.” Pria itu mengusap wajahnya dengan punggung tangan, baru menyadari akan sesuatu yang seharusnya tidak ia tunjukkan di depan putrinya. Lalu sebisa mungkin dia kembali menunjukkan senyum lebar pada putrinya, menyembunyikan rapuh dalam dirinya. “Sakit nggak hanya disebabkan oleh jatuh. Resha harus tahu satu hal lagi, sakit paling dalam adalah kehilangan.” “Kemarin mainan Echa hilang, Pa. Tapi Echa nggak nangis kok, karena nggak ngerasain sakit.” cerita Resha dengan polosnya. “Resha belum paham. Nanti kalau kamu sudah dewasa kamu pasti paham, Nak. Mungkin hari ini papa masih bisa nolongin kamu saat kamu jatuh. Tapi untuk kedepannya papa nggak bisa janji.” “Kenapa?” “Karena ada saatnya nanti papa harus pergi. Dan kamu nggak boleh nangis ya saat waktu itu tiba.” “Papa pergi kemana? Echa mau ikut, Pa.” “Nggak bisa sayang.” “Kenapa? Echa kan pengin sama papa terus.” gadis itu menatap papanya dengan kecewa. “Kalau gitu Echa ingat pesan-pesan papa ya. Biar nanti kalo papa udah pergi, Echa bisa inget terus sama papa.” “Echa inget papa terus kok. Echa kan sayang sama papa.” “Kalau begitu janji sama papa, Echa nggak boleh nangis lagi karena alasan papaun. Pokoknya anak papa harus jadi orang yang kuat.” Pria itu menunjukkan jari kelingkingnya. “Echa janji nggak akan nangis lagi, Pa. Echa kan kuat.” gadis kecil itu menautkan jari kelingking mungilnya dengan jari papanya. Menunjukkan sebuah janji yang harus ia tepati sampai nanti. “Masa kuat? Tadi aja abis nangis.” gurau Pria itu membuat Resha kesal. “Ah, Papa! Echa tadi kan nggak sengaja nangisnya.” alasan Resha yang membuat pria itu lagi-lagi tersenyum gemas lalu mengangguk percaya. “Iyadeh papa percaya, anak papa emang kuat.” Resha tersenyum bangga pada papanya. Pria itu mengusap lembut rambut Resha sembari berkata “Inget pesen-pesen papa ya, Nak.” Resha hanya mengangguk polos. Dia tidak pernah mengira bahwa apa yang dikatakan papanya itu akan menyakitinya suatu hari nanti. Semenjak saat itu Resha benar-benar menepati janjinya untuk tidak menangis karena alasan apapun. Resha bahkan tak menangis sedikitpun meskipun dia terjatuh dari sepeda hingga kepalanya berdarah. 10 tahun kemudian… Hari ini, setelah sepuluh tahun lamanya, Resha baru sadar semua yang pernah dikatakan oleh papanya waktu itu. Resha mengerti bagaimana sakit yang sesungguhnya. Lebih sakit dari jatuh yang membuat sikunya berdarah kala itu. Lebih sakit dari semua sakit yang pernah dia rasakan. Dan hari ini untuk pertama kalinya dia mengingkari janjinya pada papa. Resha tak akan bisa berhenti menangis setelah ini. Kehilangan papa adalah mimpi terburuk yang selalu terasa nyata. Papa telah pergi meninggalkan Resha untuk selamanya. “Kenapa papa pergi ninggalin Resha? Resha udah nepatin janji, Pa. Tapi sekarang papa sendiri yang buat Resha ingkar janji. Papa yang buat Resha nangis.” perlahan suara isak tangisnya semakin jelas. Resha tak mungkin bisa tersenyum lagi setelah ini. “Resha ayo pulang. Mama tahu kamu belum bisa menerima ini. Tapi kamu harus belajar mengikhlaskan, Nak. Papa kamu akan sedih jika melihat kamu seperti ini.” Resha menatap mamanya sekilas, lalu beralih menatap kembali batu nisan yang terukir nama papanya disana. Dadanya sesak, tidak mudah menerima kenyataan yang bahkan dia sendiri tidak menginginkannya. “Papa nggak boleh pergi Ma! PAPA NGGAK BOLEH NINGGALIN RESHA! PAPA NGGAK BOLEH PERGI! Hiks! PAPAA!! Hiks!” Hari ini, di tempat terakhir papa. Resha menangis bukan karena luka, tapi rasa kehilangan yang sakitnya tak akan pernah bisa dipulihkan. Cerpen Karangan AnitaAlfa Blog / Facebook Tidak punya Anita Alfa, lahir pada 14 Desember 2004 di Tulungagung, Jawa Timur. Pelajar putih abu-abu yang hobby membaca dan menghayal. Akun ig anitaalfaa14, Wattpad AnitaAlfa. Buat kalian yang baca ini, cuma mau bilang AYO MENYERAH, NGAPAIN SEMANGAT’ haha. Cerpen Definisi Sakit merupakan cerita pendek karangan AnitaAlfa, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Pengalamanku Tentang Covid 19 Oleh Cintya Vidya Sasikirana Assalammualaikum semuanya. Namaku Cintya. Aku akan menceritakan pengalamanku tentang Covid 19. Suatu hari romo dalam bhs jawa artinya bapak sakit. Gejalanya adalah batuk berdahak, demam. Waktu itu bude Nanik, Pertemuan Terindah Oleh Alya Firdaus Kita bertemu melalui akun sosial media yang sedang booming pada saat itu. Dia menyapaku di pesan obrolan dengan kata-kata yang sering orang lain ucapkan ketika ingin berkenalan dengan lawan Mawar dan Vas Porselen Oleh Agata CW 1 Januari 2008 Aku mengayuh sepedaku dengan kencang tak peduli walau jalan ini curam. Hari ini untuk pertama kalinya aku pergi menonton film dengan Carissa, gadis yang aku sukai. Angel Oleh Selda Arifani Di sebuah sekolah SMA terdapat seorang cewek cantik yang menjadi primadona sekolah. Dia adalah Angel, yang kini duduk di bangku kelas XI. Dia adalah anak yang pintar, dan multitalent. Program Penurunan Berat Manja Oleh Ana Rifqi Jamil Melihat aksi tanteku yang lagi sibuk kejar-kejaran dengan Ifha, putrinya yang kelas dua SD, karena susah sekali disuruh mengerjakan PR, diriku teringat pada tulisanku yang akan Anda baca ini. “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" Cerpen Karangan Annisa Adinda PutriKategori Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih Lolos moderasi pada 2 March 2014 Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-14 tahun, mungkin apa yang aku inginkan sama seperti apa yang ku mau pada tahun-tahun sebelumnya yaitu hanya ingin bertemu dengan seorang sahabat kecilku yang sudah dari 4 tahun yang lalu tidak pernah terdengar kabarnya. Malam ini seperti biasa aku akan merayakan sendiri ulang tahunku di tepi danau yang sering aku kunjungi saat masih kecil bersamanya, ia adalah seorang sahabat yang swlalu ada saat aku sedih maupun senang, setiap hari saat bersamanya aku selalu tersenyum, walaupun aku tetap merasakan sakit yang sudah lama aku derita, tetapi saat ada dia semua rasa sakit itu hilang dan diganti dengan rasa senang dan gembira. Benar saja! aku adalah seorang gadis yang mengidap kanker otak sejak aku berumur 8 tahun, penyakit ini tidak pernah membuat dia pergi meniggalkanku, tetapi sebaliknya ia lah yang selalu mendukungku, ia yang selalu berusaha membuatku tersenyum saat aku merasa terpuruk akibat penyakit ini. Sampai pada akhirnya aku tau ia sudah tiada, ia mengidap kanker darah yang lebih awal ia rasakan sebelum aku divonis oleh dokter, ia tidak pernah memberitahuku tentang penyakitnya. sampai saat itu ternyata ia pergi ke singapura untuk berobat, tetapi tubuhnya menolak obat-obatan yang diberi oleh dokter akibat tubuhnya yang belum kuat menerima reaksi dari obat-obatan tersebut, akhirnya ia meniggal dunia. aku yang mendengar kabar itu hanya bisa menangis dan berfikir apakah aku akan seperti itu. Semua kenangan yang ia berikan kepadaku hanya bisa membuatku semakin rindu akan hadirnya. sampai aku merasakan sedih yang sangat mendalam, sampai pada akhirnya aku merasakan ia mendatangiku dan mengajakku pergi bersamanya, dan itulah saat-saat aku pergi untuk selamanya dari dunia ini. Pada akhirnya semua keinginanku terwujud, sekarang aku bahagia bersamanya dalam suatu keabadian… Cerpen Karangan Annisa Adinda Putri Facebook Annisa Adinda Ini adalah cerpen pertamaku! maaf ya kalau masih jelek, soalnya aku juga masih pemula Cerpen Sahabat Kecilku dan Penyakit Yang Aku Derita merupakan cerita pendek karangan Annisa Adinda Putri, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Selamat Tinggal Kakak Oleh Ali Arsa Ali adalah seorang anak tunggal yang hidupnya dipenuhi dengan kesendirian. Ayahnya tewas sejak Ali berumur 6 tahun, saat itu Ayah Ali menjadi korban tabrak lari. Sekarang Ali hanya ditemani Secerca Harapan Menunggumu Oleh Diah Kumalasari Ku pijakkan langkah demi langkah pada setapak jalan ini. Kaki ini mengalun secara perlahan, mengikuti alunan lembut udara pagi. Mega sang surya memberikan warna untuk langit dan berikan kecerahan Confused Part 3 Oleh Ambarwati Akhirnya Rendy dan Debby sampai di kota tercintanya. Namun, mereka tak langsung pulang tetapi mampir dahulu ke sebuah kedai santai. “Ren, bentar lagi aku yakin pasti kamu dapetin dia.” Aku Ranita Oleh Fadhilatul Hasnah “Nita!” suara merdu itu memanggil namaku dari kejauhan. Aku menghentikan langkah dan menoleh kembali ke arah gerbang sekolah. Tampak Rani, sahabatku, berlari kecil ke arahku. Rambut hitam berkilau bak Tengkleng Solo Oleh Aisy Mukiya “Yakin tidak ada yang tertinggal,” Tanya Bang Rey ketika aku memasukkan satu buku kecil ke dalam saku tas. Aku menggeleng, mengangkat tas rangsel dan menggendongnya di punggung. Penerbangan masih “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" 4 menitBerikut beberapa contoh cerpen sedih yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Walau singkat, tapi isinya penuh dengan pesan moral! Cerita pendek atau cerpen adalah sebuah karya sastra yang sejak bangku sekolah dasar sudah dikenalkan kepada siswa. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, cerpen mulai benar-benar jadi bahan materi ketika siswa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama SMP. Mengenai tema, cerpen bisa dibuat dengan banyak topik. Seperti topik ringan yang sering dialami oleh masyarakat pada umumnya. Beberapa topik cerpen yang menjadi favorit para siswa seperti cerpen motivasi, cerpen pengalaman pribadi, dan cerpen tentang sekolah. Selain beberapa tema di atas, cerpen sedih bisa menjadi alternatif tepat. Itu karena cerpen sedih relatif mudah dibuat dan relate dengan kehidupan sehari-hari. Nah, artikel ini pun akan memberikan beberapa contoh cerpen sedih singkat sebagai referensi. Penasaran? Mari kita ulas contoh cerita sedih selengkapnya! 1. Cerpen Sedih dengan Judul “Gagal Ulangan” Sudah dari sejak Jumat pekan kemarin, Bapak Asep memberi tahu kelas IX jika Rabu ini akan ada ulangan matematika. Namun, alih-alih belajar, aku dan Gisel justru menghabiskan akhir pekan dengan bermain di kebun binatang. Bukan, bukan karena tak mau belajar, tetapi aku sungguh lupa kalau Rabu ini akan ada ulangan matematika. “Seperti yang Bapak katakana Jumat kemarin, hari ini kita ulangan matematika, ya,” ungkap Bapak Asep. “Siap paakk,” seru semua murid. Jika semua murid sudah siap, aku dan Gisel mendadak pucat pasi lantaran sama sekali tak belajar untuk ulangan. Kami pun saling tatap cemas. “Aduh, kita lupa Caca kalau hari ini ada ulangan,” sebut Gisel. Aku hanya mengangguk menelan ludah karena takut gagal ulangan. Kertas ulangan pun disebar dari depan ke belakang. Aku yang sudah mendapat kertas ulangan dan melihat beberapa soalnya sejurus kian panik. Bagaimana tidak, hampir semua soalnya aku tak bisa mengerjakan. Andai aku belajar, mungkin aku masih bisa untuk mengerjakan. Ulangan pun dimulai… Ketika semua murid tampak khusyuk mengerjakan, Aku dan Gisel malah sibuk menengok kanan dan kiri tak fokus. Di titik itu, aku sungguh pasrah. Aku mencoba mengerjakan apa yang aku bisa. Setelah ulangan selesai, semua murid mengumpulkan kertas jawaban. Antara lega dan takut, aku pun mengumpulkan kertas jawaban yang hampir pasti mendapat nilai buruk. Satu minggu kemudian. Setelah satu minggu berakhir, hasil ulangan matematika keluar. Satu per satu murid dipanggil untuk mendapat hasil ulangan mereka. Beruntung, Gisel yang waktu ulangan tak belajar mendapat nilai yang pas. Ia tak perlu lagi mengulang. Ketika giliranku dipanggil, Pak Asep bertanya lirih “Kenapa Caca nilai kamu jadi jelek?” Aku hanya tersenyum getir. Kemudian aku melihat hasil ulangan yang membuatku mengeluarkan air mata. Ya, aku mendapat nilai yang sangat kecil, mungkin paling kecil di antara teman satu kelasku. Tak ingin terlihat menangis, aku mencoba menahan air mata agar tidak keluar. Pak Asep lalu mengumumkan kalau ada siswa yang nilainya di bawah 6 harus mengulang kembali ujian minggu kemarin. Sialnya, di antara yang lain hanya aku yang harus mengulang ujian. Setelah kejadian itu aku bertekad untuk belajar lebih giat, supaya hal serupa tidak terulang. 2. Cerpen Sedih tentang Kehidupan 3. Contoh Cerita Sedih Singkat dengan Judul “Perpisahan” Di sini, waktu seperti berhenti di awal tahun 2000-an. Semuanya serbamanual, semuanya serba-zaman dulu. Namun, hal itulah yang membuatku senang dengan kota ini. Kota paling indah, di mana aku bermain sejak kecil dan kini mulai tumbuh dewasa. “Kenapa kamu melamun, Melati?” tanya Bunga penasaran yang melihatku melamun sambil melihat jalan raya. Aku memang akhir-akhir ini sering melamun, menatap setiap jengkal kota kelahiranku. “Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang menikmati kota ini,” jawabku. Bunga tak menjawab, ia hanya mengangguk memberikan sinyal jika ia mengerti. Besok hari datang, aku melakukan hal serupa, yakni kembali melamun. “Dari kemarin aku melihat kamu terus melamun, pasti ada yang tidak beres. Ceritakan masalahmu,” desak Bunga. “Meski kamu adalah sahabat dekatku, tak semua bisa aku ungkapkan semua masalahku,” jawabku. Mendengar hal tersebut Bunga justri kian penasaran. “Kita sudah berteman dari kecil, semua hal tentangmu aku sudah tahu. Kenapa kamu tiba-tiba begini?” ujar Bunga. Entah kenapa, mendengar hal itu aku malah emosi. “Jangan campuri urusan orang!” Aku pun pergi meninggalkan Bunga. Perbuatanku salah, tetapi emosi itu datang begitu saja. Bunga yang heran dengan sikapku, tampak juga ikut emosi karena ia merasa disalahkan. Berawal dari sana, aku dan Bunga tak lagi bertemu. Terhitung, sudah satu minggu aku tak berjumpa dengan Bunga. Padahal, dalam waktu dekat aku akan pergi, meninggalkan kota yang sejak kecil aku tinggali. Bunga datang ke rumah, meminta maaf karena sikapnya tempo hari yang seakan kepo dengan masalahku. “Maafkan aku Melati, aku sadar jika semua hal tak bisa diberi tahu. Maaf, ya.” Aku lantas memeluk Bunga, menangis sejadi-jadinya. Selain karena aku merasa bersalah, aku juga sadar kalau aku akan meninggalkannya. Aku pun lalu menceritakan apa yang terjadi. Jika aku akan pindah bersama keluarga ke luar Pulau. Bunga semula tak menerima karena kita berjanji untuk bersahabat selamanya. “Tak mengapa, jarak hanyalah jarak. Jangan sampai persahabatan kita luntur karena hanya jarak,” ungkap Bunga. Kita pun berpelukan sambil menangis. Dua orang sahabat yang esok hari tak bisa saling jumpa kembali. *** Itulah beberapa contoh cerpen singkat sedih. Semoga cerita sedih singkat di atas bermanfaat, Property People. Baca artikel menarik lainnya di Segera ikuti Google News agar kamu tak ketinggalan berbagai informasi menarik. Pesona Prima Cikahuripan 5 & 6 dapat menjadi pilihan tepat jika kamu sedang berburu rumah di daerah Cileungsi, Bogor. Informasi lebih lengkap, klik dan karena kami selalu AdaBuatKamu. Cek sekarang juga! ***sumber gambar