Soloposcom, KARANGANYAR — Gunung Lawu telah menjadi pusat pemujaan sejam zaman megalitikum terbukti dari temuan punden berundak di puncaknya yang terus berlanjut hingga ke zaman kerajaan lewat keberadaan prasasti batu berangka tahun 1360 Saka atau 1438 Masehi dan relief cokrosurya.. Di puncak Gunung Lawu, yakni di Hargo Dumilah, Hargo Dalem, dan Pasar Dieng, terdapat sepuluh bangunan punden BacaJuga: Cara Menuju ke Gunung Semeru; Karena ingin mendaki Gunung Lawu, maka kereta yang pilih adalah Argo Lawu (biar matching aja) dengan keberangkatan pukul 20:15 WIB dari Stasiun Gambir pada malam sebelumnya. Jadi setelah kurang lebih 9 jam perjalanan, saya tiba di Stasiun Solo Balapan pukul 05:00 WIB. TujuanPerjalanan kali ini adalah Gunung Cikuray. Ada beberapa alternatif untuk mencapai pos pendakian gunung cikuray dari tasikmalaya, bisa menggunakan kendaraan pribadi sampai ke pos pendakian, bisa menggunakan angkutan umum dari arah tasik tujuan garut/bandung berhenti di patrol, dan dilanjutkan jalan kaki sekitar 2 jam perjalanan, atau menggunakan jasa ojek 35 ribu. 1300 - 13:30 : Istirahat & Persiapan kembali ke stasiun 13:30 - 16:00 : Perjalanan kembali ke stasiun solo jebres / solo balapan Keberangkatan kereta dari solo menuju Jakarta *GBM Selatan, Star jam 16:12 Tiba dijakarta 01:55 ( Solo Jebres ) *Matarmaja, Star Jam 22:31 Tiba Dijakarta 09:27 ( Solo Jebres ) z747Tlo. JAKARTA, - Gunung Lawu tak hanya memiliki pesona keindahanya yang menghipnotis. Namun, ada banyak jejak sejarah dan misteriyang masih belum terpecahkan. Baca Juga Gunung yang terletak di antara provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah itu rupanya telah menjadi saksi peradaban manusia sejak lama. Hal itu coba dibuktikan oleh peneliti asal, Jerman Franz Wilhelm Junghuhn. Dia pernah melakukan ekspedisi ke gunung yang memiliki ketinggian Mdpl itu. Junghuhn disebut memulai ekspedisinya pada 11 Mei 1838. Baca Juga Dia mengawali perjalanannya dari arah paling barat laut dari tiga anak gunung, yaitu Argo Blungko setinggi meter, kemudian Argo Tumiling lebih dikenal dengan nama Hargo Dumiling sekarang dengan ketinggian meter, juga disebut Argo Tiling, dan berakhir pada puncak tertingginya, Argo Dumilah di ketinggian Mdpl. Ekspedisi itu dicatatkan oleh Residen Madiun bernama Lucien Adam dengan judul, "Antara Lawu dan Wilis Arkeologi, Sejarah, dan Legenda Madiun Raya Berdasarkan Catatan Lucien Adam". Pada catatannya Junghuhn merekam bagaimana puncak tertinggi tersebut terletak tepat di perbatasan Madiun dan wilayah Surakarta. Junghuhn juga menyebutkan bahwa di tengah-tengah pada puncak Argo Blungko, yang diduga kuat kini Hargo Dalem terdapat sebuah lubang persegi yang besar, ujungnya tampaknya telah dibentuk oleh dinding dan oleh karena itu tampak seperti telah mendapatkan sentuhan seni. Kemudian di Hargo Dumiling, Junghuhn kembali mencatatkan bahwa ada lalu lintas manusia di sebagian besar area permukaannya yang kecil telah ditata lagi dalam bentuk ruang-ruang persegi yang ujung-ujungnya terdiri atas batu-batu kasar dan saling bertumpukan. Ketika sampai di lereng utara Dumilah, Junghuhn sekali lagi menemukan beberapa teras yang telah dibentuk manusia. Teras - teras ini hanya dikelilingi dengan bongkahan batu kasar yang bertumpuk di atas satu sama lain dan tidak memanjang sampai ke puncak. Follow Berita Celebrities di Google News Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis tidak terlibat dalam materi konten ini.